Sinopsis Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA)

Sinopsis Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA)

Layar Terkembang adalah sebuah novel karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang diterbitkan pada tahun 1937 oleh Balai Pustaka. Novel ini bercerita tentang dua bersaudara mahasiswa kedokteran (Tuti dan Maria). Novel ini diyakini dapat menggambarkan penerimaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Barat.

Menurut keterangan banyak ahli, novel ini merupakan salah satu ciri lahirnya periode Pujangga baru. Novel ini tergolong unik karena dianggap sebagai salah satu cerita yang baru saja terjadi di luar kota Melayu melainkan di Batavia. Cerita yang disajikan adalah pertanyaan tentang kehidupan sepasang saudara dengan latar belakang yang berbeda. Maria (kakak) yang periang dan mudah mengangumi, serta Tuti (kakak), yang tegas dalam melihat sesuatu dan memiliki standar penilaian yang tinggi, merupakan dua kolaborasi unik dalam penciptaan karakter yang diciptakan pengarang.

Identitas Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana

Judul Layar Terkembang
Penulis Sutan Takdir Alisjahbana (STA)
Tahun Terbit 1937
Penerbit Balai Pustaka
Tebal 201 Halaman

Sinopsis Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana

Novel ini bercerita tentang perjuangan perempuan Indonesia untuk mencapai cita-citanya. Novel ini adalah novel modern, ketika sebagian besar orang Indonesia masih terjebak dalam pemikiran lama (1936). Novel ini banyak memperkenalkan permasalahan perempuan Indonesia pada pemikiran modern melalui konflik budaya baru. Hak-hak perempuan yang diusung secara luas oleh budaya modern yang sadar gender telah banyak diekspresikan dalam novel ini dan telah menjadi sisi perjuangannya, seperti keterbukaan pikiran dan kemandirian. Ini juga memperkenalkan banyak pertanyaan baru tentang konflik budaya antara Timur dan Barat dan masalah agama.

Cerita dimulai dengan karakter kakak beradik Tuti dan Maria dengan kepribadian yang berbeda. Tuti adalah seorang kakak perempuan yang selalu mengikuti berbagai kegiatan kewanitaan dengan serius dan aktif. Ia bahkan aktif menyampaikan orasi tentang persamaan hak perempuan. Saat itu, semangat perempuan sangat kuat, dan mereka mulai menuntut kesetaraan dengan laki-laki. Pada saat yang sama, Maria adalah adik kecil yang ceria, sehingga semua orang di sekitarnya akan menyukai kehadirannya. Di antara dua gadis cantik itu, Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran, disebut-sebut sebagai Sekolah Tabib Tinggi saat itu. Sejak pertemuan pertama mereka di Gedung Akuarium Pasar Ikan, Maria dan Yusuf memiliki kontak batin yang membuat mereka menjadi sepasang kekasih.

Di saat yang sama, Tuti yang melihat hubungan kakak perempuannya itu sebenarnya ingin juga memiliki kekasih. Apalagi setelah menerima surat cinta dari Subomo, seorang pemuda yang berbudi luhur dan terpelajar. Namun, ia menolak cintanya karena pemuda ini bukan idamannya. Sejak saat itu, hari-harinya semakin disibukkan dengan kegiatan berorganisasi dan melakukan kegemarannya, yaitu membaca, hingga ia melupakan mimpinya akan seorang kekasih.

Setelah melalui berbagai tahapan perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan mengunjungi Yusuf, terjalin hubungan antara Maria dan Yusuf. Sayangnya, hanya sehari sebelum pernikahan, Maria jatuh sakit. Penyakitnya sangat parah, malaria dan TBC, sehingga harus dirawat di Panti Jompo Pesset. Segera setelah itu, Maria menelan napas terakhirnya. Sebelum ajal datang, Maria memerintahkan adiknya Tuti untuk menerima Yusuf. Tuti tidak menolak, dan memulai pertunangannya dengan Yusuf. Akhirnya, tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menikah dan hidup bersama selamanya.

Mahasiswa Semester 7